Posted by: ohksatriaku | November 7, 2007

WALI ALLAH VS WALI SYAITHAN

Penulis: Al-Ustadz Abul Mundzir Dzul – Akmal as Salafiy Lc

Allah berfirman :
Artinya: “Ingatlah, sesungguhnya wali wali Allah itu, tidak ada  kekhawatiran terhadap mereka dan tidak bersedih hati, (yaitu) orang orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa.” Yuunus (62 – 63)

Ayat diatas mengandung pengertian bahwa wali Allah adalah orang mukmin yang bertaqwa dan menjauhi maksiat, ia berdo´a hanya kepada Allah `Azza wa  Jallaa semata dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun, terkadang
tampak padanya karomah ketika sedang dibutuhkan, yaitu karunia Allah Ta`aala yang diberikan kepada wali-Nya, berupa perkara perkara yang ada diluar kebiasaan manusia, yang demikian itu bisa terjadi akan tetapi ia tidak diminta untuk mendapatkanya, atau mempelajari wirid atau dzikir dzikir tertentu untuk mendapatkannya, dan tidak pula dikatakan seorang wali, yang dapat berjalan diatas air atau berada disuatu tempat dengan tiga wajah atau sepuluh, sebagaimana pengakuan kaum-kaum tharekat, shufiyah yang sesat dan menyesatkan.

Padahal Imam Ibnu Katsir telah menyatakan :
“Apabila kamu melihat seorang laki laki berjalan diatas air atau terbang di udara, janganlah kalian benarkan dia, dan jangan kalian mudah tertipu dengannya, sampai kalian mengetahui sejauh mana ittiba`nya terhadap Rasul Shollallahu `alaihi wa Sallam.”[1]

Maka dari sini ada isyarat apabila kita melihat seorang yang tidak mempan dibacok, bisa terbang di udara, atau hilang dan tiba tiba muncul disuatu tempat, jangan langsung kita mempercayai kejadian atau perbuatan yang demikian, namun kita perhatikan Din (Agama)-nya, kalau dia seseorang yang sangat senang kepada kesyirikan, perdukunan, atau dia merupakan salah seorang yang berkerja sama dengan jin, atau dia merupakan peng`ibadat jin dan syaithon, pelaku bid´ah dan segala bentuk kema`siatan maka ia adalah wali syetan.

Salah satu contoh wali Allah Tabaaraka wa Ta`aalaa yang benar benar wali adalah sahabat yang mulia Amirul Mu`miniin `Umar bin Khatthaab radhiallahu `anhu yang pada saat itu mengutus Amru bin al `Ash menjadi gubernur di Mesir, disana terdapat sungai Nil, dimana setiap tahunnya masyarakat Mesir memberikan tumbal seorang gadis perawan, agar sungai tadi bisa mengalir dan berjalan airnya dengan baik untuk pengairan irigasi mereka, sebab menurut pengakuan mereka sungai Nil tersebut tidak bisa berjalan dengan baik sebelum mendapatkan tumbal tersebut. Oleh karena itu, `Amru bin al
`Ash radhiallahu `anhu menulis surat kepada Amirul Mu`miniin `Umar bin Khatthaab radhiallahu `anhu, maka `Umar bin Khatthaab pun membalas surat tersebut, yang berbunyi:

Artinya : “Dari `Abdullah `Umar amiiril mu`miniin kepada sungai nil penduduk Mesir adapun selanjutnya : “Wahai sungai nil kalau kamu berjalan dan mengalir sesuai dengan kehendakmu maka janganlah engkau berjalan atau mengalir, sebab kami tidak ada hajat padamu, akan tetapi hanyasanya mengalirnya kamu adalah semata mata perintah Allah al Waahidul Qahhaar, dan Dialah memerintahkan kamu untuk mengalir, maka kami meminta pada Allah Ta`aalaa untuk menjalankan kamu.”[2]

Maka `Amru bin al `Ash radhiallahu `anhu, cukup surat tadi dibacakan saja ditepi sungai tersebut lalu beliau lemparkan ke sungai Nil, maka dengan izin Allah Jalla wa `Alaa, sungai Nilpun mengalir dengan lancar dan baik, bahkan lebih lancar dari sebelumnya. Demikian pula seperti karamah Maryam ketika ia mendapatkan rizki berupa makanan dirumahnya.

Maka, wilayah (Kewalian) memang ada, tetapi ia tidak terjadi kecuali pada hamba yang mu`min, ta`at dan meng-Esakan (mentauhidkan) Allah Jalla DzikruHu. Karomah juga tidak menjadi satu syarat bagi seseorang untuk disebut dia sebagai wali, sebab syarat yang demikian tidak tercantum didalam al Qur´an dan as Sunnah.

Kewalian itu tidak mungkin terjadi pada seseorang fasiq atau musyrik yang berdo´a serta memohon kepada selain Allah Tabaaraka wa Ta`aalaa. Sebab hal itu termasuk `amalan `amalan orang musyrik, sehingga bagaimana mungkin
mereka menjadi para wali yang dimuliakan ??

Kewalian juga tidak bisa diperoleh melalui warisan dari nenek moyang atau keturunan, tetapi ia didapatkan dengan iman dan amal sholihnya.

Apa yang tampak pada sebagian ahli bid´ah seperti memukul mukulkan besi ke perut, memakan api dan sebagainya dengan tidak menimbulkan cedera apapun, maka itu adalah perbuatan syaithon. Yang demikian itu bukan karamah tetapi
Istidraaj (tipuan) agar mereka semakin jauh tenggelam dalam kesesatan.

Allah SWT berfirman :

Artinya : “Katakanlah, barang siapa yang berada di dalam kesesatan, maka biarlah Allah yang Maha Pemurah memperpanjang tempo baginya.” Maryam (75).

Berkata al Imam as Sa`dy rahimahullahu Ta`aalaa : “Telah disebutkan hujjah mereka yang bathil, yang menunjukkan kerasnya pembangkangan mereka, serta kuatnya kesesatan mereka, Allah `Azza wa Jallaa mengkhabarkan bahwasanya
siapa saja yang berada di dalam kesesatan, dengan meredhoi kesesatan itu untuk dirinya, dan dia berusaha padanya, maka sesungguhnya Allah Subahaana wa Ta`aalaa akan memperpanjang temponya dalam kesesatan tersebut, dan ditambahkan rasa cintanya padanya, sebagai hukuman baginya atas pilihannya terhadap kesesatan itu daripada petunjuk Allah Ta`aalaa.”

Mereka yang pergi ke Iran , akan menyaksikan orang-orang majusi lebih dari itu, diantaranya mereka saling memukulkan pedang, dengan tidak menimbulkan  bahaya apapun, padahal mereka adalah orang orang kafir.

Islam tidak mengakui berbagai perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam, juga tidak di`amalkan oleh para sahabatnya. Seandainya di dalam perbuatan tersebut terdapat kebaikan, niscaya mereka akan lebih dahulu melakukannya dari pada kita. Menurut persepsi kebanyakan manusia, wali adalah orang yang mengetahui
ilmu ghaib, padahal ilmu ghaib adalah sesuatu yang hanya Allah Subhaana wa Ta`aalaa saja yang mengetahuinya, memang terkadang hal itu ditampakan pada sebagian RasulNya `Alaihis Sholaatu was Sallaam, jika Dia menghendakinya, seperti Allah `Azza wa Jalla tampakan kepada RasulNya surga, neraka, serta para penghuninya. Allah berfirman :

Artinya : “Dialah Allah Yang Mengetahui yang ghaib, maka dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya.” Al-Jin : ( 26 – 27).

Dengan tegas, ayat diatas mengkhususkan para Rasul, dan tidak menyebutkan yang lain, sebahagian orang menyangka bahwa setiap kuburan yang dibangun diatasnya kubah adalah wali, padahal bisa jadi kuburan tersebut didalamnya
adalah orang fasiq, atau bahkan mungkin tidak ada manusia yang dikubur didalamnya.

Membangun sesuatu bangunan diatas kuburan adalah diharamkan oleh Din Islam dalam sebuah hadist shohih ditegaskan :

Artinya : Dari Jaabir bin `Abdillah al Anshooriy radhiallahu `anhu berkata: “Rasuulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam telah melarang mengapur kuburan atau duduk di atasnya, atau dibangun sesuatu diatasnya.”[3]

Seorang wali bukanlah yang dikuburkan didalam masjid, atau yang dibangun di atas kuburannya bangunan atau qubbah, hal ini justru melanggar ajaran syari´at Islam, demikian pula mimpi bertemu dengan mayit tidak merupakan dalil secara syar´iy atas kewalian dia, bahkan bisa jadi ia (mimpi tersebut) adalah bunga tidur yang berasal dari syaithan.
Allahu A`laamu bisshowaab.

[1] Lihat kitab “A`laamussunnatil Mansyuurah Li`tiqaaditthooifat un Naajiyyatul Manshuurah”, hal. 255 karya as Syaikh Haafidz bin Ahmad al Hakamiy wafat 1377 H, cetakan keempat tahun 1316H/1996M, maktabatur rusyd ar Riyaadh. Berkata al Imam Haafidz : “Perkataan al Imam as Syaafi`iy ini telah ditampilkan oleh al Imam Ibnu Katsiir rahimahullahu Ta`aalaa dalam tafsirnya yang lafadznya sebagai berikut :
Artinya : Sesungguhnya Yuunus ibnu `Abdil A`laa as Shodafiy telah berkata, saya berkata kepada as Syaafi`iy : al Laiits bin Sa`ad berkata : “Apabila kamu melihat seorang laki laki berjalan di atas air jangan kalian mudah tertipu dengannya, sampai kalian betul betul mencocokan perbuatannya dengan al Kitab dan as Sunnah,” kemudian al Imam as Syaafi`iy berkata :  “Kurang perkataaan al Laiits rahimahullahu, bahkan apabila kamu melihat seorang lelaki………………, sebagaimana arti di atas. Lihat : “Tafsiir ibnu Katsiir” (1/78) dan “Syarhul `Aqiidatut Thohaawiyyah”, hal. 573.

[2] Lihat kitab “A`laamussunnatul Manshuurah”, hal. 252-253.
[3] Hadist ini dikeluarkan oleh : al Imam Muslim di “shohihnya” (2/667 no.970), at Tirmidziy (3/368 no.1052), an Nasaaiiy (3/392 no.2028), Ibnu Maajah (1/498 no.1562), Ahmad di “musnadnya” (3/295,332,399) . Seluruhnya dari jalan Jaabir bin `Abdillah al Anshooriy radhiallahu `anhu.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: