Posted by: ohksatriaku | November 21, 2007

Riwayat Hidupku

Sembilan bulan aku berada dalam rahimnya, sakit dan lelah tak dirasakannya.
Hanya kebahagiaan yang memancar dari raut wajahnya hingga lahirlah aku kedunia ini.

Saat aku berumur 1 tahun, dia menyuapi dan memandikanku.
Sebagai balasannya, aku menangis sepanjang malam.

Saat aku berumur 2 tahun, dia mengajariku bagaimana cara berjalan.
Sebagai balasannya, aku kabur saat dia memanggilku.

Saat aku berumur 3 tahun, dia memasakkan semua makananku dengan kasih sayang.
Sebagai balasannya, aku buang piring berisi makanan ke lantai.

Saat aku berumur 4 tahun, dia memberiku pensil berwarna.
Sebagai balasannya, aku corat-coret dinding rumah dan meja makan.

Saat aku berumur 5 tahun, dia membelikanku pakaian-pakaian yang mahal dan indah.
Sebagai balasannya, aku memakainya untuk bermain di kubangan lumpur dekat rumah.

Saat aku berumur 6 tahun, dia mengantarku pergi sekolah.
Sebagai balasannya, aku berteriak “nggak mau!!”

Saat aku berumur 7 tahun, dia membelikanku bola.
Sebagai balasannya, aku lemparkan bola ke jendela tetangga.

Saat aku berumur 8 tahun, dia memberiku es krim.
Sebagai balasannya, aku tumpahkan hingga mengotori seluruh bajuku.

Saat aku berumur 9 tahun, dia membayar mahal untuk kursus pianoku.
Sebagai balasannya, aku sering bolos dan sama sekali tidak pernah berlatih.

Saat aku berumur 10 tahun, dia mengantarku kemana saja, dari kolam renang hingga pesta ulang tahun.
Sebagai balasannya, aku melompat keluar mobil tanpa memberi salam.

Saat aku berumur 11 tahun, dia mengantar aku dan teman-temanku ke bioskop.
Sebagai balasannya, aku minta dia duduk di baris lain.

Saat aku berumur 12 tahun, dia melarangku untuk melihat acara TV & Video khusus orang dewasa.
Sebagai balasannya, aku tunggu sampai dia pergi keluar rumah.

Saat aku berumur 13 tahun,dia menyarankanmu untuk memotong rambut, karena sudah waktunya.
Sebagai balasannya, aku katakan dia tidak tahu mode.

Saat aku berumur 14 tahun, dia membayar biaya untuk kempingku selama sebulan liburan.
Sebagai balasannya, aku tak pernah meneleponnya, mengabarkan keberadaanku.

Saat aku berumur 15 tahun, pulang kerja dia ingin memelukku.
Sebagai balasannya, aku kunci pintu kamarku.

Saat aku berumur 16 tahun, dia ajari aku mengemudi mobilnya.
Sebagai balasannya, aku pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa peduli kepentingannya.

Saat aku berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telepon yang penting.
Sebagai balasannya, aku pakai telepon nonstop semalaman.

Saat aku berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika aku lulus SMA.
Sebagai balasannya, aku berpesta dengan teman-temanku hingga pagi.

Saat aku berumur 19 tahun, dia membayar kuliahku dan mengantarku ke kampus pada hari pertama.
Sebagai balasannya, aku minta diturunkan jauh dari pintu gerbang agar aku tidak malu di depan teman-temanku, ditertawakan sebagai “anak mami”.

Saat aku berumur 20 tahun, dia memberiku sebuah mobil guna aktivitasku,
dan suatu hari bertanya “Dari mana saja seharian ini?”
Sebagai balasannya, aku jawab, “Ah, Ibu cerewet amat sih, ingin tahu urusan orang!”

Saat aku berumur 21 tahun, dia menyarankan satu pekerjaan yang bagus untuk karirku di masa depan.
Sebagai balasannya, aku membentak “Aku tidak ingin seperti Ibu”

Saat aku berumur 22 tahun, dia memelukku dengan haru saat aku lulus perguruan tinggi.
Sebagai balasannya, aku tagih janjinya untuk kapan bisa ke Luar Negeri.

Saat aku berumur 23 tahun, dia membelikanku 1 set furniture lengkap untuk rumah baruku.
Sebagai balasannya, aku ceritakan pada temanku betapa kunonya furniture itu.

Saat aku berumur 24 tahun, dia bertemu dengan kekasihku dan bertanya tentang keluarga dan rencananya di masa depan.
Sebagai balasannya, aku mengeluh, “Aduuh, bagaimana ibu ini, kok bertanya seperti itu?.”

Saat aku berumur 25 tahun, dia membiayai pernikahanku.
Sebagai balasannya, aku pindah ke kota lain menjauh darinya bertahun-tahun.

Saat aku berumur 30 tahun, dia memberikan beberapa nasihat bagaimana merawat bayiku kepada aku dan istriku.
Sebagai balasannya, aku katakan padanya, “Bu, sekarang jamannya sudah berbeda!”

Saat aku berumur 40 tahun, dia menelepon untuk memberitahukan pesta ulang tahun salah seorang kerabat.
Sebagai balasannya, “Bu, saya sibuk sekali, nggak ada waktu.”

Beberapa bulan ini, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanku.
Sebagai balasannya, aku baca tentang pengaruh negatif orang tua yang menumpang tinggal di rumah anak-anaknya, dan kucari pula informasi tentang rumah jompo.

Dan hingga larut malam aku tertidur dengan menggenggam buku dan brosur rumah jompo, tiba-tiba kudapati dia meninggal dengan tenang. Dan aku menjadi teringat semua yang belum pernah aku lakukan untuknya, mereka datang menghantam hatiku bagaikan palu godam, kemudian aku berteriak lantang, “tidaaak…” dan terdengar istriku bertanya “Ayah mimpi apa???”.

Aku hanya menjawab “Tidak ada apa-apa, besok pulang kantor, Ayah akan mengunjungi Ibu…”

UNTUK SAHABAT SEMUA, JIKA IBUMU MASIH ADA, JANGAN LUPA
MEMBERIKAN KASIH SAYANGMU LEBIH DARI YANG PERNAH KAU
BERIKAN SELAMA INI.. SEBELUM PENYESALAN ITU DATANG…

———— ——— ——— ——— ——— ——— –

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah… penuh nanah

Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu. ..ibu….

Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas…ibu. ..ibu….

Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu. ..ibu

(Iwan Fals, ibu)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: