Posted by: ohksatriaku | April 28, 2008

Belajar Menjadi Nun Berakhir Jadi Muslimah

*Gadis Philippine *
M. Syamsi Ali
**
Masih ingat sekitar setahun lalu, the Islamic Forum kedatangan peserta baru yang hampir saya sangka seorang santria dari Indonesia. Seorang gadis pendiam dengan kerudung rapih ala Indonesia duduk di salah satu sudut ruangan dengan malu tapi selalu tersenyum.

“*Sorry, are you….from Indonesia*?”, tanyaku suatu ketika.

“*Oh no! I am an American*”, jawabnya dengan pelan dan suara lembut.

“*But you look very Asian. And so, what is your original ethnic back ground*?”, tanyaku lagi.

“*I am originally from the Philippine. I came to this country when I was 5 with my mother*”, jelasnya.

Demikianlah Richelle Santos memulai pengenalan dirinya dengan kami di Islamic Center. Umurnya masih relatif muda, tapi saat ini sudah bekerja di sebuah perusahaan sebagai finance analyst. Alumni New York City University ini tinggal sendiri karena ibunya kemudian nikah lagi dan nampaknya suasana rumah tangganya tidak kondusif baginya untuk tinggal bersama.

*Sekolah Nun. *

Selepas sekolah dasarnya, Richelle yang ibunya beragama Katolik kuat memasukkannya ke sebuah sekolah pelatihan menjadi Nun. Richelle bercerita, ketika dirinya berumur sekitar 11 tahun, ibunya sangat mengkhawatirkan bahwa dirinya akan jatuh dalam pergaulan yang salah. Untuk itu, dia disekolahkan
di sebuah sekolah Katolik pelatihan nun di kota Manhattan. Richelle menceritakan bagaimana ketatnya peraturan ketika dia menimba ilmu di tempat tersebut. “*I almost give up in just a few days*”, katanya.

Saya jadi teringat di hari-hari pertama tinggal di pesantren. Hingga hari ini selalu saya sebut sebagai “a divine jail” (penjara suci) karena betapa susahnya menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Apalagi jika memang seseorang sudah set dengan dunia tertentu.

“*So did you complete your training to a Nun*?”, tanyaku suatu ketika.

“*Not really…I did stay more than two years in the school, but to be honest, I never serious in my study*”, katanya.

Setelah saya tanya lebih jauh, ternyata jawabannya adalah karena dari pagi hingga sore dia diindoktrinasi dengan konsep-konsep yang dia sendiri tidak pernah yakini. “*All those did make sense at all to me*”, katanya singkat.  Maka setelah dua tahun bertahan di sekolah Katolik pendidikan nun, Richelle
meminta kepada ibunya untuk sekolah di sekolah umum. Pertama kali ibunya menolak, tapi setelah Richelle menjelaskan banyak hal, termasuk beberapa bentuk pergaulan di asrama yang sama sekali tidak masuk akal, ibunya menuruti.

Demikian dari Sabtu ke Sabtu Richelle mengikuti dialog di Islamic Forum. Walaupun sangat pintar, tapi tidak pernah mengajukan pertanyaan kecuali jika dipancing. Mungkin darah Asianya masih sangat kental sehingga nampak sekali sangat malu dan sopan santun.

Beberapa kali Richelle juga menghadiri acara yang dilakukan di masjid Al-Hikmah, milik masyarakat Muslim Indonesia di New York. Salah satunya di saat masjid al-Hikmah menjadi tuan rumah bagi tamu pembicara terkenal, Sr. Aminah Assilmi, mantan Kristen radikal yang memeluk Islam dan saat ini menjadi seorang muballiggah yang go international.

Saat itu nampak Richelle menyimak kata per kata yang keluar dari mulut Sr. Aminah Assilmi. Bahkan nampak mencatat poin-poin penting yang disampaikan oleh beliau. Setelah selesai ceramah, sambil bercanda saya bertanya: “*Would be like her in the future*?”. Richelle hanya menjawab dengan senyuman.

*Big Day for me *

Tingga minggu lalu, Richelle hadir agak pagian ke Islamic Center. Saya sendiri biasanya sibuk dengan weekend school tidak terlalu menghiraukan. Tapi sepintas saya melihat kepadanya dan nampak seperti gelisah. Menjelang shalat Zuhr saya tanya: “*what happens Richelle? I saw you a kind of *…..”.
Rupanya, belum tuntas saya bertanya kepadanya, Richelle sudah menjawab: “*Oh no! I am fine*”, tanya sambil seperti menyembunyikan sesuatu.

Shalat Zuhr dimulai. Richelle hanya duduk sendirian di kelas. Rupanya siang itu tidak terlalu peserta Islamic Forum yang mengikuti kelas. Saya memulai kelas siang itu dengan bahasa Arab (membaca Al Qur’an), dilanjutkan dengan tafsiran S. Al-Hujurat.  Richelle nampak serius mencatat hampir semua poin-poin penting yang saya sampaikan.

Tiba-tiba saja, di saat saya memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya, Richelle nampak mengalirkan air mata, sambil tersenyum malu, mengatakan: “*Imam Shamsi, I want to convert*!”.

Semua yang hadir langsung terperanjat. Biasanya, keinginan untuk masuk ke Islam itu disampaikan setelah kelas, atau datang sendiri. Kali ini Richelle menyampaikan di tengah-tengah kelas masih berlangsung.

Lancang saja yang keluar dari mulut saya: “*alhamdulillah Richelle! I am so happy to hear that finally Allah reaches your heart and now the faith is reaching it*”.

Saya kemudian mengalihkan pembahasan siang itu dari S. Al-Hujurat ke apa makna berislam. Saya yakin penjelasan saya sudah didengar berkali-kali oleh Richelle selama ini, tapi saya ingin untuk mengingatkan kembali.

Saya kemudian bertanya sekali lagi kepada Richelle. “*You have been with us for the last almost two years. What really did you find unique in this religion?”,* pancingku.

“*Oh, I think I have to be honest. From the very beginning I joined your class, I have been amazed by the teaching. I did not have any thing to oppose*.”, jelasnya.

“*But what really makes you take too long to decide*?”, tanyaku lagi.

“*I think I just wanted to make sure that I fully aware of all things required from me as a Muslim. I need to know the injunctions and regulations, so I can do try to follow them in my life*”, jelasnya.

Langsung saja saya meminta kepada hadirin untuk menjadi saksi. Tapi tidak lupa saya sampaikan ke Richelle bahwa Allah in the best witness. Seraya menunduk, Richelle dengan berlinang airmata mengikuti ikrar tauhid:

*”Laa ilaaha illa Allah-Muhammad Rasul Allah*”.

Yang saya rasakan adalah ketulusan dan kemantapan hati dari Richelle dalam menerima Islam. Siang itu, ruangan kelas the Islamic Forum memang terharu. Hampir semua yang hadir ikut meneteskan airmata karena tersentuh dengan linangan airmata Richelle. Dia hanya sempat menyelah sambil mengusap
airmata: “*Today is a big day for me*!”.

Semoga engkau, Richelle, dikuatkan dan selalu dijaga dalam menjalani agamaNya.

New York, 14 April 2008


Responses

  1. Islam is very beautiful.
    Thanks God.
    Alhamdulillah.

  2. Subhanallah.
    ALLAHU AKBAR! ALLAHU AKBAR! ALLHU AKBAR!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: