Posted by: ohksatriaku | April 28, 2008

*Katherine Wesley*

*Katherine Wesley *

Sejak dua bulan terakhir ini, the Forum for non/new Muslims membahas tafsir  S. Al-Hujurat Al Qur’an. Rupanya metode pembahasan dengan menjelaskan kata per kata cukup menarik bagi banyak peserta. Memang di antara peserta itu sudah ada yang pernah mengambil kursus bahasa Arab. Sehingga pembahasan
ayat-ayat Al Qur’an dengan pendekatan “*kata per kata*” dan mendalami  makna ayat-ayatnya dengan mendalami makna dari setiap kata menjadi daya tarik tersendiri.
 
Hari pertama saja, ketika saya menjelaskan kata ‘*aamanuu*’ pada ayat “*yaa aayuhalladzina aamanuu laa tuqaddimuu*……dst”, mengambil waktu yang cukup panjang untuk menjelaskan semua makna yang terkait dengan kata itu.  Dimulai dari kata “*amina-ya’manu-amnun*” yang berarti “aman”, hingga  “aamana-yuuminu-I’maan wa amaanah” yang berarti “*amanah*” atau kepercayaan.

Duduk di salah satu sudut ruangan yang tidak terlalu luas itu, seorang  gadis bule. Wajahnya putih bersih dan penuh senyum, tapi menampakkan sikap pemalu. Sesekali gadis itu menyelah seolah-olah membenarkan penjelasan saya,  atau menguatkan argumentasi-argumentasi yang saya berikan.

Saya memang agak terkejut. Apalagi gadis ini belum saya kenal dengan baik.  Maka, dalam sebuah sesi hari Sabtu itu saya tanya “*may I ask you*?”
“*Yes sir*!” jawabnya sopan.
“*Do you speak Arabic*?”, tanyaku.
“*Oh no*!”, katanya malu-malu. “But I took some course on Arabic”, lanjutnya.
 
“*Where did you take Arabic course, and how is your Arabic level*?”  tanyaku.
Dengan sedikit tertawa dia mengatakan “*Basically I am shy to say it. I am  a very beginner*”.
“*I was a very beginner too*!”, kata saya sambil bercanda.
 
Menjelang akhir kelas, dua Sabtu lalu, Katherine, demikian dia mengenalkan  diri, seperti ingin sekali mengatakan sesuatu tapi sepertinya sangat malu,  atau sepertinya berat untuk disampaikan. Sesekali ingin mengatakan sesuatu,  namun setiap kali saya pancing untuk berbicara, jawabannya “*am..amm never  mind*!”, seperti gaya anak remaja yang cuwek.

Setelah kelas bubar, barulah Katherine mendekat dan meminta waktu untuk  berbicara. Oleh karena waktu saya singkat, saya katakan, apakah dia perlu waktu panjang?

“*No, just a few minutes of your time*”, katanya.
Saya kemudian meminta izin untuk menyelesaikan beberapa hal yang perlu saya  selesaikan. Beberapa saat kemudian saya memintanya untuk masuk ke ‘*conference room*’. Katherine masuk ke ruang conference dan berencana menutup pintu,  tapi saya memintanya untuk tetap pintu terbuka. “*It’s fine, don’t close it*”, kata saya.

“*Alright Katherine! Is there any thing that I may be helpful*?”, saya  memulai percakapan siang itu.
“*Iman* (maksudnya Imam), *are you familiar with Imam Latif*?”, tanyanya.
“*Which Latif are talking about? I have a few latifs in my memory*”,  kataku merujuk kepada kenyataan bahwa saya mengenal beberapa teman yang  kebetulan bernama Latif atau Abdul Latif.

“*I think he is the Imam at the NYU*”, jawabnya.
“*Oh yeah, he is the Muslim Chaplain at the NYU and as well the Muslim Chaplain for the NYPD*”, jelasku.

Saya kemudian bertanya, ada apa dengan Imam Khalid Latif (nama lengkap Chaplain yang dimaksud) itu. Barulah kemudian saya tahu kalau Katherine itu adalah mahasiswa S3 di NYU, yang ternyata sedang menulis disertasinya dalam  perbandingan madzhab Maliki dan Syafi’I.

“*I did attend some of his lectures and Kutbas* (maksudnya Khutbah)”,  katanya mengenai Imam Latif.
Saya kemudian bertanya, kenapa ingin berbicara ke saya siang itu? Dari percakapan itu ternyata Katherine sudah meneliti Islam, khususnya fiqh dan  perbandingan fiqh dalam hukum Islam. “*For me, it’s simply amazing*!”, katanya mengenai diskusi-diskusi atau perdebatan-perdebatan yang terjadi di antara pada ulama Islam. Menurutnya, semakin dia dalam perberdaan pendapat para ulama itu, semakin sadar bahwa Islam itu begitu menjunjung tinggi ilmu dan semangat pencarian (inquiries). Dia bahkan mengetahui betul bahwa  semangat inilah yang pernah menjadikan Islam jaya dalam segala lini  kehidupan manusia.

“*And so, what I can do for you*?”, tanya saya. Maksud saya, barangkali  ingin mendiskusikan sesuatu yang berhubungan dengan disertasinya. Atau  mungkin ingin mengklarifikasi tentang sesuatu dalam penelitian yang  dilakukannya.

Katherine terdiam dan bahkan menunduk beberapa saat. “*I am thinking to  convert*”, katanya seraya meneteskan airmata.

Tanpa terasa saya hanya langsung mengucapkan “alhamdulillah!”. Bagi  Katherine tentu kata ini bukan sesuatu yang asing lagi. Mendengar itu dia hanya tersenyum seraya mengusap airmatanya.

“*Are you sure, Katherine*?”.
“*Yes, I am sure. Basically, I’ve thought about this for a quite long time*”, katanya.
Saya kemudian mencoba menjelaskan kembali makna berislam. Bahwa berislam itu bukan sekedar mengetahui kebenaran ini, tapi dari itu merupakan komitmen  hidup untuk melakukan perubahan internal maupun eksternal untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.

Saya memang tidak berpanjang lebar lagi berbicara kepada Katherine. Saya tahu Katherine sebenarnya tahu banyak tentang Islam, dan bahkan mungkin lebih banyak tahu dari ‘average Muslims’ yang terlahir dari orang tua  Muslim. Apalagi memang dia telah meneliti hukum Islam, khususnya mengenai fiqh Islam.

“*Are you ready*?”, kembali saya tanya.
“*Yes*!”, jawabnya tegas.
 
Saya meminta ke resepsionis untuk mencarikan dua orang saksi. Setelah saksi  hadir di ruang pertemuan itu, saya memulai menuntun Katherine mengikrarkan:

“*Laa ilaaha illa Allah-Muhammadan Rasul Allah*”.
 
Diikuti pekik Allahu Akbar, saya mendoakan semoga Katherine dikuatkan dan bahkan menjadi da’iyah di jalanNya. Alhamdulillah!

New York, April 18, 2008

Syamsi Ali <pengajian_ny@yahoo.com>


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: