Posted by: ohksatriaku | April 28, 2008

Perang vs. Kelaparan

M. Syamsi Ali

“Maka hendaklah mereka sembah Tuhan rumah ini (Ka’bah). Yang memberikan makan dari rasa lapar dan memberikan aman dari takut” (AlQur’an S. Al-Qurasy: 3-4).

“For nation shall rise against nation…….and shall be famines and troubles; these are the beginning of sorrows” (Mark: 13:18)

Dunia saat ini betul-betul berada di ambang gelombang krisis multidimensional yang runyam. Sejak kejadian 11 September 2001, disusul oleh beragam aksi dan reaksi yang terjadi setelahnya, menghasilkan konsekwensi yang sangat memprihatinkan. Kini konsekwensi itu hampir mencapai puncak klimaks yang mengerikan. Kekerasan dan terorisme terjadi di mana, di susul oleh berbagai peperangan atas nama peperangan terhadap terorisme juga terjadi hampir di mana-mana dan tanpa tanda-tanda berakhir.

Berbagai peperangan itu juga telah menjadikan hubungan antar manusia atau antar kelompok manusia mengalami krisis luar biasa. Terjadi kesalah pahaman, kecurigaan, dan bahkan manusia cenderung untuk saling membenci dan memusuhi. Antara satu kelompok manusia dengan kelompok yang lain saling menuding dengan tuduhan kejahatan (evilness). Bahkan kita kenal adanya pengelompokan bangsa tertentu ke dalam ‘axes of evils’ (poros syetan).

Akibat kecurigaan dan kesalah pahaman itu menjadikan kelompok lain terjatuh ke dalam suasana ketakutan dan kekhawatiran yang berlebihan (over fearful and worried). Bahwa setiap kegiatan kelompok lain akan dicurigai sebagai ancaman bagi kelompok yang lain. Maka tidakmengherankan jika berbagai tuduhan ditujukan kepada kelompok tertentu sebagai alat untuk menekan atau menghentikan aktifitas mereka, walauitu barangkali bersifat positif dan dengan tujuan mulia.

Beragam peringatan juga terlintas dengan nyata di hadapan mata manusia. Berbagai penyakit aneh, yang manusia ‘dhaif’ (lemah) menghadapinya juga terjadi di mana-mana. HIV/AIDS dan Flu burung sebagai kasus terbaru yang masih membingunkan manusia. Penyakit yang nampaknya atau minimal dalam persepsi manusia sebagai sesuatu yang baru dan sekaligus belum ditemukan obat atau solusinya.

Krisis lain yang dihadapi manusia saat ini adalah krisis perubahan iklim (climate change). Iklim semakin tidak menentu, bahkan telah membawa berbagai bencana dalam hidup manusia. Di mana-mana terjadi bencana alam, dari gempa bumi, banjir, dan bahkan lautan meluap dan membinasakan ratusan ribu umat manusia (tsunami). Tidak satu negara pun yang terjaga dari kemungkinan akibat bencana ala mini. Bahkan negara super power seperti Amerika juga penuh dengan goncangan bencana alam, banjir, tanah longsor maupun kebakaran.

Dampak langsung dari berbagai krisis yang ada itu adalah terjadinya krisis ekonomi dunia yang sangat menakutkan. Amerika dalam masa waktu yang sangat panjang mengalami kejayaan dan kemakmuran ekonomi yang mapan. Kini, Amerika menghadapi resesi ekonomi yang mengerikan. Perdagangan properti dan peminjaman hutang untuk membayar/membeli properti terjun bebas secara menakutkan. Krisis ini bahkan menarik perhatian semua pihak, tak terkecuali para calon presiden yang sedang bertarung.

 

Krisis pangan dan energi

 

Peperangan yang berkepanjangan, saling boikot memboikot antar negara dengan justifikasi resolusi DK-PBB menyeret dunia ke dalam resesi perekonomian yang sangat mengkhawatirkan. Berbagai hal telah diusahakan untuk menahan laju krisis ekonomi yang menimpa dunia saat ini. Tapi nampaknya belum juga memperlihatkan tanda-tanda pemulihan.

Namun dari semua itu, nampaknya yang paling mengerikan adalah terjadinya krisis pangan dan energi yang sangat mengerikan. Dalam dua minggu terakhir saja, harga bahan baker di Amerika Serikat melonjak tinggi mencapai hampir 4 USD per satu galon. Harga minyak dunia menggelembung mencapai 117 USD per barrel. Ini adalah krisis dan ancaman besar bagi negara-negara industri, termasuk Amerika, yang selanjutnya berdampak kepada berbagai krisis lainnya.

Harga bahan makanan, termasuk di Amerika melonjak luar biasa. Selama ini harga beras di pasaran New York misalnya hanya $ 11.00 per karung kecil. Kini melonjak menjadi $20.00 perkarung. Di perkirakan bahwa Asia dan Afrika akan mengalami krisis pangan, dan karena sedemikian parahnya krisis pangan ini akan membawa kepada dampak keamanan (security) yang sangat berbahaya. Bahkan ‘riots’ dan kekerasan akan tumbuh di mana-mana.

Banyak pemimpin negara yang menyadari hal ini, termasuk Presiden Indonesia yang telah mengirimkan suratnya kepada Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki Moon, baru-baru ini meminta perhatian khusus Sekjen PBB terhadap ancaman pangan yang telah mewabah di berbagai belahan dunia saat ini. Selanjutnya, Indonesia meminta agar dilakukan pertemuan darurat di tingkat PBB untuk membahas permasalahan krisis pangan yang dihadapi oleh dunia saat ini.

Media massa saat ini pun banyak memberitakan tentang krisis pangan di berbagai belahan dunia dan kemungkinan konsekwensi dari krisis tersebut. Di berbagai pertemuan, seminar, konferensi, juga dibahas secara intens bagaimana krisis pangan terjadi dan apa akibat yang akan terjadi dengan krisis tersebut.

 

Lapar dan ketakutan

 

Sengaja saya mengutipkan ayat-ayat dari Surah Al-Quraysh di awal tulisan ini karena ayat-ayat ini terasa sangat relevan dengan berbagai kejadian mutakhir yang menimpa dunia kita. Nampaknya, ayat-ayat tersebut menjelaskan secara gamblang bahwa ketidak amanan (insecurity) banyak terjadi karena permasalahan perut (ekonomi). Sebaliknya, berbagai permasalahan ekonomi yang menimpa umat manusia juga sebagai akibat langsung dari goncangan keamanan (terorisme, perang, pembunuhan, dll.). Keduanya bagai dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan.

Di mana terjadi peperangan, tunggulah berbagai akibat ekonomi dan sosial. Barangkali Irak adalah contoh nyata. Sebelum terjadi peperangan di Irak di tahun 1991, Irak adalah negara kaya dan penghasil minyak kedua setelah Saudi Arabia. Terbukti, setelah peperangan tahun 1991, rakyat Irak menderita. Kini dengan peperangan 2002 lalu itu semakin meluluh lantahkan perekonomian rakyat. Akibatnya, pembunuhan menjadi pandangan lumrah dalam kehidupan rakyat Irak.

Oleh karenanya, dalam laporan tahunan Sekretaris Jenderal PBB pada saat dilakukan Millennium Summit di tahun 2000, Kofi Annan (Sekjen saat itu) menyimpulkan bahwa untuk memasuki abad baru (XXI) dengan aman dan selamat, dunia kita perlu diselamatkan dari dua hal, yaitu fear dan hunger.

 

Kofi Annan kemudian menjelaskan secara detail berbagai krisis yang akan dihadapi umat manusia di abad ke 21 ini karena dua faktor tersebut. Manusia menghadapi goncangan hidup, peperangan, kelaparan, kehausan (terbatasnya air bersih), dan tentunya ancaman ‘climate change’ yang sangat mengerikan itu.

Maka, Surah Al-Quraysh itu mengajarkan kepada manusia untuk memusatkan perhatiannya kepada Tuhan rumah (Ka’bah) itu. Jangan sampai manusia mempertuhankan, termasuk hawa nafsu mereka. Dan jangan sampai mereka justeru saling mempertuhankan atau memperbudak di antara mereka. Jika itu terjadi maka akibatnya terjadi ‘ketidak imbangan’ (in-balance) dalam hubungan antar manusia, yang selanjutnya, berakibat kepada keretakan hubungan (saling bermusuhan), yang pada akhirnya pada akhirnya melahirkan ketakutan dan kelaparan.

Ayat-ayat ini nampaknya telah membuktikan diri. Peperangan-peperangan terjadi di mana-mana karena adanya ketidak imbangan dalam hidup manusia. Mereka ‘the haves’ semakin berpunya, sementara yang ‘the have nots’ juga semakin tidak memiliki. Maka, rentanglah terjadi kebencian yang direfleksikan dalam berbagai kekerasan-kekerasan (terror).

Peperangan-peperangan kemudian semakin mempercepat laju krisis ekonomi (kelaparan) yang menimpa dunia kita saat ini. Maka, ‘fal ya’budu Rabba hadzal bait’ (kembalilah kepada penyembahan yang benar dengan menyembah Allah, Tuhan Ka’bah) perlu dijadikan pijakan dalam melihat krisis pangan/ekonomi yang menimpa dunia saat ini.

Akhirnya, sengaja saya kutipkan sebuah ayat dari Injil, dengan harapan bahwa mereka yang terlalu bersemangat berperang, termasuk non Muslim, walau itu atas justifikasi memerangi ‘evils’ perlu melakukan introspeksi. Bahwa ternyata peperangan sekarang ini telah membawa konsekwensi yang tidak kecil.

Tapi dilemmang memang, terkadang ‘bukan pandangan mata yang buta,tapi tetapi yang buta adalah hati manusia’ (ayat).

New York, 23 April 2008

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: